"Malu Aku Jadi Orang Indonesia" karya Taufiq Ismail - Ditulis Tahun 1998, Kenapa Puisi Ini Masih Relate Banget Sekarang?
MALU
(AKU) JADI ORANG INDONESIA
Puisi
Karya:Taufiq Ismail
I
Ketika
di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke
Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan
belas lima enam itulah tahunnya
Aku
gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku
baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa
hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku
sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish
Bay kampung asalnya
Kagum
dia pada revolusi Indonesia
Dia
mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas
Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan
kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku
busung jadi anak Indonesia
Tom
Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan
mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia
sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu
dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa
sering benar aku merunduk kini
II
Langit
akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum
tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan
aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan
aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan
aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di
sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan
kubenamkan topi baret di kepala
Malu
aku jadi orang Indonesia.
III
Di
negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di
negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang
curang susah dicari tandingan,
Di
negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan
cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara
hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di
negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata,
pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum
dipotong birokrasi
lebih
separuh masuk kantung jas safari,
Di
kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak
sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri,
jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar
orangtua mereka bersenang hati,
Di
negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat
jelas
penipuan
besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di
negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara
yang opininya bersilang tak habis
dan
tak utus dilarang-larang,
Di
negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya
berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di
negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah
harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang
saja sementara mereka kalah,
kelak
perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh
satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di
negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan
tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya
dengan sepotong SK
suatu
hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di
negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima
belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di
negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi
gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di
negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi
pertunjukan teror penonton antarkota
cuma
karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak
pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang
disetujui bersama,
Di
negeriku rupanya sudah diputuskan
kita
tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi
pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena
Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga
cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di
negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan
penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung
Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah,
Santa Cruz dan Irian,
ada
pula pembantahan terang-terangan
yang
merupakan dusta terang-terangan
di
bawah cahaya surya terang-terangan,
dan
matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi
terang-terangan,
Di
negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi
dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam
di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit
akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum
tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan
aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan
aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan
aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di
sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan
kubenamkan topi baret di kepala
Malu
aku jadi orang Indonesia.
Puisi "Malu
(Aku) Jadi Orang Indonesia" karya Taufiq Ismail adalah salah satu
otokritik paling tajam dalam sastra modern Indonesia, ditulis pada tahun 1998
di tengah gejolak era Reformasi.
Melalui puisi ini,
Taufiq Ismail menyuarakan keprihatinan dan rasa frustrasi yang mendalam terhadap
kondisi moral bangsa. Beberapa sorotan utama dalam puisi tersebut meliputi:
- Korupsi dan Ketidakadilan: Puisi ini secara gamblang menyindir hukum yang
bisa dibeli, birokrasi yang korup, dan elit politik yang memiskinkan
rakyat.
- Krisis Kebenaran: Taufiq menyoroti kebohongan yang dinormalisasi,
di mana kemunafikan menjadi budaya sehari-hari di berbagai lapisan
masyarakat.
- Kontras yang Ironis: Ia membandingkan keindahan alam dan kekayaan
Nusantara dengan mentalitas merusak para pengelolanya. Hal ini memunculkan
rasa malu yang mendalam bagi sang penyair saat identitas keindonesiaannya
disorot.
Karya ini sering dibacakan sebagai refleksi nasionalis. Ironisnya, rasa "malu" yang disuarakan dalam bait-bait tersebut justru lahir dari rasa cinta dan kepedulian yang besar agar Indonesia bisa berbenah dan menjadi bangsa yang lebih bermartabat.
BIOGRAFI PENULIS klik di sini
Bagian mana dari
pesan Taufiq Ismail di puisi ini yang menurut Anda paling relevan dengan
kondisi sekarang?
#TaufiqIsmail #MaluAkuJadiOrangIndonesia #BumiJatiAyu #PuisiBJ #PuisiKritikSosial #PuisiSatire #Otokritik #PuisiReformasi #RefleksiBangsa #SastraIndonesia #KaryaSastra #SajakIndonesia #PuisiNasionalisme

.png)
0 Response to ""Malu Aku Jadi Orang Indonesia" karya Taufiq Ismail - Ditulis Tahun 1998, Kenapa Puisi Ini Masih Relate Banget Sekarang?"
Post a Comment