Puisi Sajadah Tak Lagi Lusuh April 2016
Sajadah Tak Lagi Lusuh
M Subakri _lumajang, 02 April 2016
| 12.00
Wajahmu kaku membisu
Terbujur sepanjang
waktu
Tubuhmu lusuh berdebu
Saksi nyata tak
tersentuh
Dering waktu terus
berlalu,
Dirimu semakin
terlupakan
Gemerlap dunia
memburamkan,
Tertimbun oleh :
Pekerjaan, senda-gurau, atau sekedar malas belaka
Seolah berlalu
begitu saja,
Seolah tak ada yang
diperhitungkan,
Seolah hanya dirimu,
milikmu, dan tak bertuan
Seolah hanya sajadah
panjang yang lusuh
Apakah memang
begitu?
Tanpa ada
perhitungan?
Oh, tidak!
Adalah Rosul itu,
Pembawa jalan lurus
tak berliku,
Penerang dalam
gulita,
Muhammad yang mulia
Masih ada waktu,
rembulan masih
tersenyum
mentari masih
bersinar
mari ambil sajadah
itu
sebelum terbujur
kaku
SIMAK PEMBACAAN SAJADAH TAK LAGI LUSUH
ARTI DAN MAKNA PUISI
- Bait 1-3 (Kelalaian Manusia): Menggambarkan sebuah sajadah
(alas shalat) yang diabaikan. Sajadah itu sampai "kaku, membisu, dan
berdebu" karena pemiliknya tidak pernah lagi menggunakannya. Sang pemilik
terlalu sibuk dengan urusan dunia—bekerja, bersenda gurau, atau bahkan sekadar
malas—sehingga ibadahnya tertimbun dan terlupakan. Manusia sering merasa hidup
ini akan berlalu begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban.
- Bait 4-5 (Peringatan & Jalan Kebenaran): Puisi ini membantah anggapan bahwa
hidup ini bebas tanpa hisab (perhitungan). Pasti ada perhitungan di akhirat
kelak. Penulis mengingatkan kembali pada sosok Nabi Muhammad SAW yang membawa
ajaran Islam sebagai jalan yang lurus dan penerang bagi jiwa yang gelap karena
terlalu lama jauh dari Tuhan.
- Bait 6 (Ajakan Bertobat): Ini adalah klimaks puisi yang
sangat indah. "Rembulan masih tersenyum, mentari masih bersinar"
berarti kita masih diberi umur dan napas. Frasa "mari ambil sajadah itu
sebelum terbujur kaku" memiliki makna ganda yang cerdas: sebelum tubuh
kita sendiri yang mati dan terbujur kaku menjadi mayat, segeralah
gunakan sajadah yang sudah lama terbujur kaku tersebut untuk bersujud.
Pesan yang Disampaikan
- Jangan tertipu gemerlap dunia: Pekerjaan, kesenangan, dan
kemalasan hanyalah sementara. Jangan sampai hal-hal tersebut membuat kita lupa
pada kewajiban utama kepada Sang Pencipta.
- Ingat hari perhitungan (Hisab): Setiap detik waktu yang kita
habiskan di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya. Tidak ada yang berlalu
begitu saja.
- Segera bertobat mumpung masih ada waktu: Selagi masih hidup dan sehat,
kembalilah beribadah. Jangan menunda-nunda kebaikan, karena ajal bisa datang
kapan saja.
Hikmah di Dalamnya
- Waktu adalah aset yang tak tergantikan: Hidup ini sangat berharga dan
singkat. Hikmah terbesarnya adalah agar kita pandai memprioritaskan waktu
antara urusan duniawi dan tabungan akhirat.
- Benda di sekitar kita akan menjadi saksi: Sajadah yang lusuh dan berdebu itu
disebut sebagai "saksi nyata". Kelak di akhirat, benda-benda yang
kita gunakan (atau tidak kita gunakan) untuk beribadah akan bersaksi atas apa
yang kita lakukan di dunia.
- Kasih sayang Tuhan masih terbuka: Selama napas masih ada, pintu
ampunan selalu terbuka luas. Mengikuti jalan Rasulullah adalah cara terbaik
untuk kembali menemukan kedamaian hati yang hilang akibat kesibukan dunia.
Singkatnya, puisi ini ngajak kita untuk pause sejenak dari rutinitas duniawi, membersihkan debu di sajadah kita, dan kembali bersujud sebelum semuanya terlambat. Puisi yang sangat bagus untuk bahan renungan!
Bagi yang ingin membaca puisi ini kami tunggu videonya ya, kirim link video ke wa 087774471651 atau video aslinya. Nanti kami edit. Terima Kasih


marilah sholat heeeeee .... inti puisinya
ReplyDelete